DPRD Pati Minta Data Warga Terdampak Kekeringan Terus Diperbarui -->

Header Menu

DPRD Pati Minta Data Warga Terdampak Kekeringan Terus Diperbarui

Senin, 12 Oktober 2026

Anggota Komisi B DPRD Pati, Warsiti

PATI – JurnalSatuu.com,
DPRD Kabupaten Pati meminta pemerintah memperbarui data wilayah dan masyarakat yang terdampak kekeringan secara berkala. Data yang akurat dinilai penting untuk menentukan prioritas penyaluran bantuan air bersih di tengah semakin luasnya wilayah yang mengalami krisis air.

Anggota Komisi B DPRD Pati, Warsiti, mengatakan kondisi kekeringan di setiap desa memiliki tingkat keparahan yang berbeda. Perbedaan tersebut membuat pola distribusi bantuan tidak bisa dilakukan dengan pendekatan yang sama untuk seluruh wilayah.

“Setiap desa kondisinya berbeda. Ada yang masih memiliki sumber air meskipun terbatas, tetapi ada juga yang sudah benar-benar kesulitan. Jadi distribusinya harus menyesuaikan kebutuhan,” ujarnya.

Menurut Warsiti, pemerintah perlu mengetahui jumlah warga terdampak, kondisi sumber air, serta tingkat kesulitan masing-masing desa. Informasi tersebut dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan jumlah bantuan sekaligus frekuensi pengiriman air.

Data terbaru mencatat sebanyak 62 desa yang berada di enam kecamatan terdampak kekeringan. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan air bersih cukup besar dan penanganannya membutuhkan perencanaan yang matang.

Selain jumlah wilayah terdampak yang meningkat, pemerintah juga menghadapi keterbatasan armada. Per awal Oktober 2026, BPBD Pati disebut memiliki lima armada tangki air. Sementara itu, kebutuhan ideal diperkirakan berada pada kisaran 10 hingga 12 armada.

Dalam kondisi seperti itu, Warsiti meminta distribusi dilakukan menggunakan skala prioritas. Wilayah dengan kondisi paling kritis harus mendapatkan bantuan lebih dahulu dibandingkan daerah yang masih memiliki sumber air.

“Kalau jumlah armadanya terbatas, tentu harus ada prioritas. Wilayah dengan kondisi paling parah harus didahulukan,” katanya.

Ia menilai pembaruan data menjadi semakin penting karena kondisi kekeringan dapat berubah dari waktu ke waktu. Wilayah yang sebelumnya masih mampu memenuhi kebutuhan air bisa saja mengalami krisis apabila sumber air terus mengalami penurunan.

Warsiti juga mendorong pemerintah menggandeng perusahaan, organisasi sosial, komunitas dan kelompok masyarakat untuk membantu distribusi.

Dengan data yang lebih akurat dan dukungan dari berbagai pihak, ia berharap bantuan air bersih dapat disalurkan secara lebih cepat, tepat sasaran dan sesuai kebutuhan masyarakat terdampak. (ADV)