Investasi Menuju Generasi Emas, Dinkes Jateng Terus Dorong Imunisasi Lengkap -->

Header Menu


Investasi Menuju Generasi Emas, Dinkes Jateng Terus Dorong Imunisasi Lengkap

Sabtu, 25 Juli 2026


SEMARANG - JurnalSatuu.com,
 Imunisasi dasar lengkap bagi anak menjadi langkah penting untuk melindungi kesehatan, memperkuat ketahanan tubuh, sekaligus mencegah berbagai penyakit menular. Lebih dari itu, imunisasi merupakan investasi jangka panjang dalam mewujudkan Generasi Emas Indonesia 2045.

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah, Zulfachmi Wahab, saat membuka Webinar Jumat Pinter (Jupiter) bertema “Bangun Ketahanan Anak Sejak Dini, Imunisasi Lengkap Jadi Investasi Kesehatan Generasi Emas”, yang digelar secara daring dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional (HAN), Jumat (24/7/2026).

Zulfachmi mengatakan, perlindungan terhadap anak tidak hanya dilakukan dengan mencegah kekerasan maupun diskriminasi, tetapi juga memastikan anak terlindungi dari berbagai penyakit yang dapat dicegah sejak dini melalui imunisasi.

“Mewujudkan generasi emas di tahun 2045 harus dimulai dari sejak bayi. Kita sepakat itu melalui pemenuhan gizi, pengasuhan yang baik, dan lingkungan sehat, serta imunisasi yang lengkap,” ujarnya.

Menurut Zulfachmi, imunisasi merupakan salah satu intervensi kesehatan masyarakat yang paling efektif, aman, dan efisien, dalam mencegah penyakit menular. Karena itu, imunisasi harus dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa.

Meski demikian, dia mengakui masih terdapat tantangan dalam meningkatkan cakupan imunisasi, terutama terkait pemahaman sebagian masyarakat. Karena itu, Dinas Kesehatan terus memperkuat edukasi kepada masyarakat, khususnya para orang tua muda atau Generasi Z, agar memiliki pemahaman yang benar mengenai pentingnya imunisasi.

“Nah, ini tantangan untuk kita bagaimana kita menyosialisasikan kepada ibu-ibu Gen Z terutama, agar mempunyai pemahaman yang sama dengan generasi-generasi sebelumnya,” ungkap Zulfachmi.

Dia menjelaskan, imunisasi mampu melindungi anak dari berbagai penyakit berbahaya, seperti campak, rubella, polio, difteri, pertusis, tetanus, hepatitis B, pneumonia, meningitis, dan penyakit menular lainnya.

Selain itu, setiap anak memiliki hak untuk memperoleh imunisasi lengkap sesuai jadwal, sebagai bagian dari hak atas pelayanan kesehatan yang telah dijamin oleh undang-undang.

Zulfachmi menegaskan, keberhasilan program imunisasi juga sangat bergantung pada peran keluarga dan masyarakat, terutama orang tua yang bertanggung jawab memastikan anak memperoleh imunisasi secara lengkap dan tepat waktu.

Lebih lanjut, pihaknya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak, agar lahir generasi yang sehat, cerdas, aktif, dan produktif.

“Mari kita bersama menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak, agar mereka menjadi anak yang sehat, cerdas, aktif, dan produktif,” kata Zulfachmi.

Sementara itu, dokter spesialis anak RSUD Dr Adhyatma MPH, Tugurejo Semarang, Setya Dipayana menjelaskan, imunisasi dasar lengkap ialah program rutin wajib yang diberikan kepada bayi sejak lahir hingga usia 12 bulan. Program tersebut bertujuan memberikan perlindungan sejak dini terhadap berbagai penyakit menular, yang berpotensi menyebabkan kecacatan maupun kematian.

Dia memaparkan, rangkaian imunisasi dimulai dengan pemberian vaksin hepatitis B sebelum bayi berusia 24 jam, untuk mencegah penularan hepatitis B dari ibu ke anak. Selanjutnya, bayi memperoleh vaksin BCG pada usia 0–1 bulan, sebagai perlindungan terhadap tuberkulosis (TB) berat.

Pada usia 2, 3, dan 4 bulan, bayi mendapatkan vaksin DPT-HB-Hib, untuk mencegah difteri, pertusis, tetanus, hepatitis B, serta infeksi Haemophilus influenzae tipe b (Hib) yang dapat menyebabkan pneumonia dan meningitis. Selain itu, imunisasi polio diberikan melalui vaksin oral (OPV) dan suntik (IPV), sebagai bagian dari upaya eradikasi polio.

Kemudian, pada usia 9 bulan, bayi menerima vaksin campak-rubella (MR) untuk mencegah campak, rubella, serta berbagai komplikasi serius yang dapat ditimbulkannya, termasuk pneumonia dan cacat bawaan akibat infeksi rubella.

Tidak hanya itu, Kemenkes juga melakukan program perluasan dengan melayani pemberian vaksin PCV (pneumokokus), untuk mencegah radang paru dan meningitis pada usia 2, 4, dan 12 bulan. Vaksin Rotavirus (RT) untuk menjaga saluran cerna dari diare berat dan dehidrasi pada usia 2, 4, dan 6 bulan.

Lalu vaksin HPV (Human Papillomavirus) yang diberikan pada anak perempuan usia sekolah dasar untuk mencegah kanker serviks, ada juga Vaksin JE (Japanese Encephalitis) yang diberikan pada daerah endemis tinggi.

Setya menekankan, keberhasilan program imunisasi tidak hanya bergantung pada kesadaran orang tua, tetapi juga didukung oleh peran strategis fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) dan puskesmas.

Menurutnya, FKTP dan Puskesmas merupakan ujung tombak dalam memberikan pelayanan imunisasi sesuai jadwal, memberi edukasi kepada masyarakat, memantau cakupan imunisasi, menelusuri anak yang belum imunisasi, serta memastikan seluruh bayi memperoleh layanan imunisasi yang aman, berkualitas, dan merata. 

(Hms.Jtg)