Antisipasi Kekeringan, BBWS Serayu Opak Siapkan Langkah Darurat Pompanisasi -->

Header Menu


Antisipasi Kekeringan, BBWS Serayu Opak Siapkan Langkah Darurat Pompanisasi

Rabu, 03 Juni 2026


BANJARNEGARA – JurnalSatuu.com , Untuk mengantisipasi ancaman kekeringan bagi petani di Kecamatan Bawang, Kabupaten Banjarnegara,Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) menyiapkan pompanisasi sebagai upaya pengairan darurat. Langkah tersebut akan diterapkan selama masa rekonstruksi tanggul irigasi di Desa Gemuruh.

Informasi itu disampaikan Kepala Balai BBWSSO, Maryadi Utama, Senin (1/6/2026). Ditambahkan, pihaknya akan memompa air dari Saluran Sekunder Siwuluh untuk mengairi lahan terdampak, selama proses rekonstruksi berjalan.

“Sampai saat ini, penanganan di lapangan masih berjalan lancar, tanpa kendala berarti,” kata Maryadi.

Dia menjelaskan, pihaknya menerapkan dua skema penanganan tanggul secara paralel. Fokus utama saat ini, kata dia, adalah melakukan penutupan celah tanggul menggunakan material batu dan bronjong sebagai penahan sementara, sembari menyiapkan rekonstruksi permanen.

Pihak BBWSSO menargetkan perbaikan bendung atau tanggul yang jebol itu, akan rampung sepenuhnya dalam kurun waktu sekitar satu bulan.

Senada, Direktur Jenderal Sumber Daya Air (SDA) Kementerian Pekerjaan Umum, Arnold Aristoteles Paplapna Ritiauw, mengatakan, penanganan tanggul yang jebol tersebut menjadi prioritas, agar suplai air ke lahan persawahan petani tidak terganggu lebih lama.

“Kami menargetkan perbaikan teknis permanen dapat segera selesai, setelah penanganan darurat ini tuntas,” ujarnya saat meninjau tanggul yang jebol.

Menurut Arnold, berdasarkan investigasi awal, insiden jebolnya tanggul dipicu oleh kombinasi faktor cuaca ekstrem dan usia infrastruktur yang sudah tua. Kondisi tersebut diperburuk oleh penurunan struktur tanah di sisi tanggul, yang sudah lama tidak mendapatkan rehabilitasi besar. Derasnya arus air kemudian menggerus fondasi tanggul yang sudah rapuh, hingga akhirnya jebol.

Selain faktor alam, Arnold mengungkapkan adanya faktor kelalaian manusia yang memicu longsornya tanggul, yakni maraknya penyodetan irigasi secara ilegal.

Bupati Banjarnegara, Amalia Desiana, menyampaikan apresiasi kepada kepada Kementerian PU dan BBWSSO, dalam membantu menangani kekeringan di wilayahnya.

Terkait langkah teknis, Pemerintah Kabupaten Banjarnegara mengupayakan untuk mencari sumber air cadangan, agar dapat menyokong kebutuhan air para petani setempat.

“Mengenai teknik perbaikan, kita pasrahkan kepada BBWSSO, untuk melihat metode mana yang paling efektif dan cepat. Sementara, untuk kebutuhan air petani di wilayah bawah, kita akan mengoptimalkan potensi air yang ada, salah satunya lewat pompa dari Saluran Siwuluh. Semoga sinergi ini bisa meminimalisir dampak kerugian bagi masyarakat,” beber Amalia, sapaan akrabnya.

Berdasarkan data yang dihimpun, jebolnya tanggul utama berdampak terhadap sekitar 161 hektare lahan persawahan di wilayah tersebut.

Ratusan petani yang menggantungkan hidup pada lahan tersebut sempat kesulitan, dan terpaksa mencari alternatif pengairan.

(Hms.Jtg)