PATI – JurnalSatuu.com , Dugaan kasus pencabulan yang terjadi di lingkungan pondok pesantren di Kabupaten Pati meninggalkan trauma mendalam bagi korban. Kepala DP3AP2KB Jawa Tengah, Ema Rachmawati menyebut korban hingga kini masih mengalami ketakutan dan tekanan psikologis berat.
Menurut Ema, korban bahkan masih
sering menangis ketika mengingat kejadian yang dialaminya selama menempuh
pendidikan di pesantren tersebut.
“Saya tanya, ‘Kalau mengingat
kejadian itu apa yang kamu rasakan?’ Dia bilang nangis. Kalau mengingat masih
nangis, masih jijik, masih takut,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa dugaan
pelecehan dilakukan secara berulang sejak korban masih duduk di bangku SMP
hingga lulus Madrasah Aliyah. Situasi itu membuat korban mengalami tekanan
mental yang berkepanjangan.
Selama berada di lingkungan
pesantren, korban disebut tidak memiliki keberanian untuk berbicara kepada
siapa pun. Korban memilih diam karena takut dan merasa tidak memiliki kekuatan
untuk melawan.
“Baru setelah lulus dia berani
cerita ke ayahnya,” kata Ema.
Saat ini korban telah mendapatkan
pendampingan psikologis dari UPTD PPA Kabupaten Pati. Pendampingan dilakukan
agar korban dapat perlahan memulihkan kondisi mentalnya setelah mengalami
trauma bertahun-tahun.
Ema mengatakan pendampingan
tersebut juga penting mengingat korban berencana menikah dalam waktu dekat.
“Calon suaminya juga perlu
memahami kondisinya,” ujarnya.
Lebih jauh, Ema menyebut banyak
korban kekerasan seksual di lingkungan pesantren enggan bersuara karena takut
terhadap stigma sosial. Pelaku yang dianggap tokoh agama membuat korban merasa
sulit mendapatkan dukungan.
“Mereka masih berada di
pesantren, jadi enggak berani. Akhirnya bilang itu fitnah. Korban takut karena
pelaku dianggap tokoh agama, dianggap enggak mungkin salah,” paparnya.
DP3AP2KB Jawa Tengah pun meminta
aparat penegak hukum melakukan visum psikiatrikum guna mengetahui dampak
psikologis yang dialami para korban.
“Trauma itu nyata dan bisa
terbawa sampai dewasa,” tegas Ema.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa
kekerasan seksual tidak hanya meninggalkan luka fisik, tetapi juga dampak
psikologis jangka panjang yang membutuhkan penanganan serius. (Adv)
