Programmer Imunisasi Dinkes Kota Pekalongan, Samsiyah Ratnawati, menyebutkan, pada 2025, terdapat 63.769 kasus suspek campak di Indonesia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 49.275 kasus telah diperiksa di laboratorium dan 11.094 kasus dinyatakan terkonfirmasi positif.
“Jika dilihat, sekitar 24,6 persen dari kasus suspek yang diperiksa benar-benar terkonfirmasi campak. Angka ini tergolong tinggi, sehingga perlu langkah cepat untuk mencegah terjadinya wabah, pandemi, maupun endemi,” ujarnya.
Ditambahkan, pada 2026, tercatat 11 kasus campak anak di Jawa Tengah yang membutuhkan penanganan serius. Selain itu, dilaporkan pula adanya tenaga medis yang meninggal dunia akibat campak di Jawa Barat.
Menanggapi kondisi tersebut, pihaknya menargetkan vaksinasi bagi kelompok prioritas, seperti dokter, dokter gigi, spesialis, bidan, perawat, ahli gizi, serta seluruh petugas yang menunjang pelayanan kesehatan.
“Kesiapan vaksin dan perlengkapan sudah tersedia. Saat ini kami sedang melakukan validasi data sasaran untuk mempersiapkan pelaksanaan vaksinasi. Kami juga telah menerima surat edaran dari Kementerian Kesehatan dan tengah melakukan sosialisasi. Selanjutnya, kami menunggu arahan lebih lanjut dari pemerintah provinsi,” jelasnya.
Dari sisi respons, ia mengungkapkan adanya dukungan dari para nakes terhadap program ini. Mereka memahami pentingnya vaksinasi sebagai upaya perlindungan diri sekaligus bagian dari tanggung jawab profesional dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
“Dengan memiliki kekebalan, petugas kesehatan dapat tetap sehat dan meningkatkan kinerja dalam melayani masyarakat. Selain itu, mereka juga berperan dalam mencegah transmisi penyakit dan berkontribusi terhadap terbentuknya kekebalan kelompok,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia mengimbau seluruh tenaga kesehatan dan nonmedis untuk berpartisipasi aktif dalam program ini. Petugas kesehatan diharapkan menjadi contoh bagi masyarakat dalam upaya pencegahan penyakit melalui vaksinasi.
Penulis: Dian
Editor: (Hms.Jtg)
