Selain Tambak, Debit Sungai Juwana Ikut Menyusut Akibat Kemarau -->

Header Menu

Selain Tambak, Debit Sungai Juwana Ikut Menyusut Akibat Kemarau

Sabtu, 05 September 2026


PATI — JurnalSatuu.com
Dampak kemarau panjang di Kabupaten Pati tidak hanya dirasakan para pembudidaya tambak, tetapi juga tampak pada menyusutnya debit air Sungai Juwana. Kondisi ini bahkan menyebabkan sejumlah ikan, termasuk ikan sapu-sapu yang populasinya sempat meningkat sejak awal 2026, ditemukan mati di kawasan sebelum Bendung Karet Juwana.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Pati, Hadi Santosa, mengatakan keberadaan ikan sapu-sapu sebelumnya sempat mengganggu populasi ikan lain di sungai tersebut. Namun seiring menyusutnya debit air, ikan-ikan itu ikut banyak yang mati. “Kalau sudah mati (ikan sapu-sapu -red) ya sudah. Kan kering, mati sendiri,” katanya.

Di sisi lain, dampak kekeringan yang lebih mengkhawatirkan justru terjadi di sektor tambak. Hadi menyebut, sekitar 1.300 hektare tambak di 33 desa di Kecamatan Juwana dan Batangan mengalami kekurangan air akibat kemarau panjang tahun ini. “Untuk tambak yang terdampak di Pati, di saat musim kemarau ini diperkirakan sekitar 1.300 hektare yang tersebar di 33 desa di Kecamatan Juwana dan Kecamatan Batangan,” ujarnya.

Ia memperkirakan, nilai produksi yang terancam hilang akibat kekeringan ini mencapai hampir Rp50 miliar dalam satu periode panen, dengan mengacu pada produktivitas tambak bandeng dan nila. “Kalau dikalikan itu bisa hampir Rp50 miliar untuk satu kali periode panen,” jelasnya.

DKP Pati bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) saat ini terus memantau situasi di lapangan sebagai dasar penentuan langkah penanganan lebih lanjut, termasuk kemungkinan bantuan bagi masyarakat pesisir yang terdampak. (RED)