PATI — JurnalSatuu.com, Dampak musim kemarau panjang di Kabupaten Pati mulai merambah ke wilayah utara, ditandai dengan laporan krisis air bersih dari Desa Ngagel, Kecamatan Dukuhseti. Kondisi ini menjadi perhatian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati, meski dampaknya di kawasan tersebut dinilai belum separah wilayah selatan.
Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Pati, Martinus Budi Prasetyo, menjelaskan bahwa secara umum wilayah Pati Utara belum banyak terdampak krisis air, namun laporan dari Desa Ngagel menjadi sinyal awal yang perlu diwaspadai.
“Kemudian untuk Pati Utara secara umum itu tidak. Tetapi di Dukuhseti hari ini sudah ada laporan Desa Ngagel,” ujarnya.
Ia menyebut, potensi perluasan dampak kekeringan ke desa tetangga seperti Desa Bakalan tetap perlu diantisipasi, sehingga pihaknya akan tetap memberikan atensi dan bantuan droping air bersih ke wilayah tersebut.
“Artinya, barangkali kami akan atensi bergerak ke Pati sebelah Utara di wilayah Kecamatan Dukuhseti. Satu-satunya desa di Ngagel, barangkali nanti bisa berkembang di Desa Bakalan,” jelasnya.
Sementara itu, kondisi paling parah masih terpusat di wilayah selatan, khususnya Kecamatan Jakenan yang dalam peta infografis kekeringan BPBD Pati ditandai dengan warna hitam sebagai indikator tingkat keparahan tertinggi.
“Dari sekian itu kalau di dalam peta infografis yang kekeringan paling parah itu kita beri warna hitam di Kecamatan Jakenan,” katanya.
Wilayah Kecamatan Jaken dan Winong turut masuk zona merah, sehingga kawasan Kawedanan Jakenan secara keseluruhan menjadi prioritas utama penyaluran bantuan.
Berdasarkan data BPBD Pati, total terdapat 40 desa di 10 kecamatan yang kini mengalami krisis air bersih akibat kemarau panjang. Untuk menangani kondisi tersebut, BPBD Pati mengerahkan empat unit tangki air yang mampu melakukan droping bantuan 8 hingga 12 kali per hari, dengan dukungan tambahan dari tangki Palang Merah Indonesia (PMI) serta partisipasi masyarakat peduli kekeringan di berbagai wilayah. (RED)
.jpeg)