PEKALONGAN – JurnalSatuu.com, Hasil pertanian urban (urban farming) Kelompok Wanita Tani (KWT) Aisyiyah Krapyak Lor, Kota Pekalongan, berupa bunga telang, rosella, pandan, dan tanaman lainnya diolah menjadi artisan botanical tea dengan beragam varian. Produk olahan itu lantas dijual dengan kisaran harga Rp20 ribu sampai Rp25 ribu per kemasan.
Ketua KWT Aisyiyah Krapyak Lor, Nur Rahmah, mengatakan, pengolahan hasil kelompoknya melibatkan kolaborasi dengan Rendjana & Co.
“Dari kebun sebenarnya sudah banyak hasilnya, tetapi kami membutuhkan inovasi agar hasil tersebut memiliki nilai jual lebih. Dari situlah kemudian kami berkolaborasi dengan Rendjana & Co. untuk mengembangkan telang menjadi botanical tea,” ujarnya.
Menurut Nur, KWT Aisyiyah berdiri pada 4 Oktober 2024 melalui Gerakan Lumbung Hidup Aisyiyah. Kelompok tersebut kemudian mengembangkan pemanfaatan lahan pekarangan dengan berbagai tanaman produktif.
“Di kebun kami ada berbagai tanaman, mulai dari sayuran, buah-buahan, ketela, singkong, talas, hingga tanaman yang dapat diolah menjadi minuman seperti telang, rosella, serai, dan pandan,” jelasnya.
Pengembangan hasil kebun juga didukung konsep kebun inti-plasma. Kebun KWT menjadi kebun inti, sedangkan anggota kelompok didorong untuk menanam bunga telang di pekarangan masing-masing. Hasil panen nantinya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku produk.
Sementara itu, pemilik Rendjana & Co., Muhammad Nur Zamsi Hasan, mengatakan pengolahan hasil kebun tersebut dilakukan dengan cara memadukan bunga telang, lemon, rosella, dan bahan botanikal lainnya untuk menghasilkan berbagai karakter rasa.
“Kalau hanya menghasilkan satu komoditas, nilai tambahnya tentu terbatas. Kami mencoba melakukan blending, sehingga hasil kebun tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual dan berpotensi dipasarkan lebih luas,” katanya.
Saat ini, pihaknya telah mengembangkan sekitar 15 varian melalui proses riset dan pengembangan dengan melibatkan konsumen terbatas untuk mendapatkan masukan mengenai rasa dan komposisi. Produk tersebut akan dirilis secara bertahap melalui kanal penjualan.
Nur menyebut, satu kemasan artisan botanical tea berisi tujuh kantong teh dengan konsep “7 Day Tea”. Varian basic diproyeksikan seharga sekitar Rp20 ribu per kemasan, sedangkan varian premium sekitar Rp25 ribu.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dinperpa) Kota Pekalongan, Lili Sulistyawati, mengapresiasi kolaborasi tersebut. Menurutnya, pengolahan hasil urban farming menjadi produk olahan dapat menjadi alternatif pemanfaatan hasil kebun sekaligus meningkatkan nilai ekonominya.
“Ini menjadi contoh bahwa hasil urban farming tidak hanya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga, tetapi juga bisa dikembangkan menjadi produk olahan yang memiliki nilai ekonomi. Kami tentu mendorong KWT untuk terus berinovasi dan memanfaatkan potensi lahan yang ada secara produktif,” ujarnya.
Lili menambahkan, sinergi antara KWT, pelaku usaha, dan pemerintah diperlukan agar pengembangan hasil pertanian masyarakat dapat berlanjut dari produksi hingga pengolahan dan pemasaran.
(Hms.Jtg)
