DPRD Pati Soroti Dampak Hama Tikus, Sebagian Petani Selatan Terpaksa Merantau -->

Header Menu

DPRD Pati Soroti Dampak Hama Tikus, Sebagian Petani Selatan Terpaksa Merantau

Rabu, 16 September 2026

Anggota Komisi B DPRD Kabupaten Pati, Warsiti

PATI – JurnalSatuu.com,
Persoalan hama tikus yang menyerang lahan pertanian di wilayah selatan Kabupaten Pati, mencakup Kecamatan Tambakromo dan Kayen, kembali menjadi sorotan. Kondisi ini membuat sejumlah petani terpaksa meninggalkan profesinya dan mencari nafkah dengan cara merantau ke daerah lain.

Anggota Komisi B DPRD Kabupaten Pati, Warsiti, menyampaikan keprihatinannya atas kondisi tersebut. Menurutnya, petani yang tidak lagi mampu bertahan akibat serangan hama akhirnya memilih beralih mata pencaharian di luar sektor pertanian.

“Dia mengalihkan mata pencahariannya dengan merantau,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, komoditas yang seharusnya ditanam petani di wilayah tersebut adalah jagung dan kacang hijau. Sayangnya, berbagai upaya pengendalian hama yang telah dilakukan, termasuk penggunaan obat-obatan, tidak memberikan hasil yang signifikan dalam menekan populasi tikus.

Warsiti menilai, meski organisasi perangkat daerah (OPD) terkait telah melakukan penanganan, hasilnya masih dinilai belum maksimal. Ia menegaskan pihaknya akan terus berupaya mencari solusi bersama dinas terkait untuk mengatasi persoalan yang telah berlangsung lama ini.

“Kalau Dinas terkait itu saya sudah menyakini beliau-beliau sudah berupaya semaksimal mungkin, tetapi bagaimanapun karena ini tugas mereka tugas bersama bagaimana kita bisa meminimalisir hama tikus itu dengan berbagai cara. Juga kita berupaya bagaimana untuk meminimalkan pakai apa itu nanti masih kita bahas dengan dinas terkait,” jelasnya.

Ia menambahkan, serangan hama tikus ini sudah dirasakan petani wilayah selatan sejak hampir tiga tahun terakhir. Bahkan, sebagian warga nekat menggunakan setrum listrik sebagai cara membasmi tikus, meski berisiko membahayakan keselamatan warga lain yang melintas di jalan-jalan sekitar lahan pertanian.

“Sudah hampir tiga tahunan, hama tikus merajalela dan ini yang tidak bisa diprediksi karena dengan adanya tikus itu sudah berupaya pakai obat ranjau dan segalanya tidak mempan. Masyarakat memakai setrum dan itu membahayakan masyarakat yang lewat karena berhubungan dekat jalan-jalan,” tandasnya. (ADV)