Kolaborasi Orang Tua dan Pemerintah Dinilai Penting Bangun Budaya Membaca Anak -->

Header Menu


Kolaborasi Orang Tua dan Pemerintah Dinilai Penting Bangun Budaya Membaca Anak

Kamis, 30 Juli 2026

Anggota DPRD Kabupaten Pati, Hj. Muntamah

PATI – JurnalSatuu.com,
Membangun budaya membaca pada anak tidak bisa hanya mengandalkan sekolah. Peran keluarga, pemerintah, hingga lingkungan sekitar dinilai menjadi faktor penting dalam menumbuhkan minat literasi sejak usia dini. Anggota DPRD Kabupaten Pati, Hj. Muntamah, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menciptakan lingkungan yang mendukung kebiasaan membaca di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.

Menurut Muntamah, penggunaan gadget dan media sosial yang semakin masif telah mengubah kebiasaan anak-anak dalam mengisi waktu luang. Banyak anak lebih tertarik memainkan telepon pintar dibandingkan membaca buku, sehingga budaya literasi perlahan mengalami penurunan.

Ia menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian serius karena kebiasaan membaca memiliki peran besar dalam membentuk kemampuan berpikir, memperluas wawasan, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia di masa mendatang.

"Karena mungkin, saat ini literasi berkurang karena adanya gadget. Sehingga hal itu berpengaruh terhadap budaya membaca anak apalagi di usia SD. Adanya gadget anak cenderung enggan saat disodori buku pelajaran maupun buku bacaan," ujar Muntamah.

Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu mengatakan, salah satu langkah yang dapat dilakukan pemerintah adalah menyediakan lebih banyak fasilitas membaca gratis yang mudah dijangkau masyarakat. Menurutnya, keberadaan ruang baca di berbagai wilayah akan memberikan kesempatan yang lebih luas bagi anak-anak untuk mengenal buku tanpa harus pergi ke pusat kota.

Selain memperbanyak fasilitas, Muntamah juga menilai perlu adanya program yang mampu membuat anak lebih tertarik datang ke perpustakaan atau ruang baca. Berbagai kegiatan edukatif dinilai dapat menjadi sarana untuk membiasakan anak berinteraksi dengan buku secara menyenangkan.

Ia mengakui bahwa beberapa desa di Kabupaten Pati telah memiliki perpustakaan yang berada di balai desa. Namun, keberadaan fasilitas tersebut dinilai belum cukup efektif apabila tidak diiringi dengan kegiatan yang mampu membangun kebiasaan membaca secara rutin.

"Meskipun sudah dikenalkan dengan buku di desa-desa, harusnya dibiasakan. Bisa juga membaca bersama dan mewarnai," tambahnya.

Menurut Muntamah, kegiatan seperti membaca bersama, mendongeng, menggambar, hingga mewarnai dapat menjadi pendekatan yang lebih menarik bagi anak-anak usia dini. Melalui aktivitas tersebut, anak tidak hanya mengenal buku sebagai media belajar, tetapi juga sebagai sarana bermain dan mengembangkan kreativitas.

Ia juga menegaskan bahwa orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam menanamkan budaya membaca di rumah. Pendampingan orang tua saat anak menggunakan gadget perlu diimbangi dengan kebiasaan menyediakan waktu khusus untuk membaca agar penggunaan teknologi tidak mengurangi minat belajar anak.

Lebih lanjut, Muntamah berharap pemerintah daerah terus memperkuat program literasi dengan melibatkan sekolah, perpustakaan, desa, serta berbagai komunitas yang peduli terhadap pendidikan anak. Sinergi tersebut dinilai akan memberikan dampak yang lebih besar dalam meningkatkan budaya membaca di Kabupaten Pati.

Menurutnya, apabila kebiasaan membaca ditanamkan sejak usia dini, anak-anak akan memiliki kemampuan berpikir yang lebih kritis, kreatif, dan terbuka terhadap berbagai ilmu pengetahuan. Hal itu menjadi bekal penting untuk menghadapi tantangan di era digital yang semakin kompetitif.

Muntamah optimistis, melalui kerja sama antara pemerintah, keluarga, sekolah, dan masyarakat, budaya literasi di Kabupaten Pati dapat terus berkembang. Dengan meningkatnya minat baca anak, diharapkan lahir generasi yang tidak hanya cakap memanfaatkan teknologi, tetapi juga memiliki wawasan luas dan kualitas sumber daya manusia yang unggul. (Adv)