Festival Lembutan Bansari VII Hadirkan Transaksi Koin Kayu dan Kampanyekan Ekonomi Hijau -->

Header Menu


Festival Lembutan Bansari VII Hadirkan Transaksi Koin Kayu dan Kampanyekan Ekonomi Hijau

Rabu, 29 Juli 2026


TEMANGGUNG – JurnalSatuu.com,
Pengalaman berbelanja tanpa uang tunai maupun dompet digital bakal menjadi daya tarik utama Festival Lembutan Bansari VII yang digelar di Desa Gentingsari, Kecamatan Bansari, Kabupaten Temanggung, pada 8–10 Agustus 2026. Selama festival berlangsung, seluruh transaksi dilakukan menggunakan kepingan koin kayu, menghadirkan nuansa pasar tradisional yang unik sekaligus mengusung semangat ekonomi hijau.

Ketua Panitia, Yoga Listiawan, menjelaskan setiap pengunjung diwajibkan menukarkan uang rupiah dengan mata uang kayu yang tersedia di stan resmi pintu masuk festival. Koin kayu tersebut memiliki tiga nominal yang setara dengan Rp2.000, Rp5.000, dan Rp20.000.

Menurut Yoga, konsep tersebut sengaja dihadirkan untuk menghidupkan kembali suasana pasar tradisional yang akrab sekaligus mendorong kepedulian terhadap lingkungan.

“Langkah anti mainstream ini sengaja dipilih untuk menghidupkan kembali atmosfer pasar tradisional zaman dulu yang guyub dan interaktif. Selain itu, ini adalah komitmen nyata kami menjaga kelestarian alam. Di area Pasar Jajan Desa dan UMKM nanti, seluruh kuliner tradisional dari 13 desa wajib dikemas menggunakan bahan alami, seperti daun pisang, dan penjaga standnya pun mengenakan busana adat Jawa lengkap,” jelasnya, Selasa (28/7/2026).

Camat Bansari sekaligus Penanggung Jawab Kegiatan, Ika Utami Widjayanti, mengatakan Festival Lembutan Bansari VII mengusung tema “Udaya Sata Samriddhi” yang bermakna Mengembalikan Kemakmuran Tembakau. Festival ini menjadi ruang pelestarian tradisi tembakau lembutan yang telah lama menjadi identitas masyarakat Bansari.
Beragam prosesi budaya akan ditampilkan, mulai dari jamasan cacak (pembersihan alat rajang tembakau tradisional), nganjang atau penataan rajangan tembakau secara massal, hingga berbagai pertunjukan seni dan aktivitas budaya yang melibatkan masyarakat.

“Tembakau lembutan bukan sekadar komoditas, tapi urat nadi kebahagiaan dan ekonomi warga kami. Lewat festival yang dikemas santai dan interaktif ini, kami ingin merangkul generasi muda dan wisatawan untuk ikut melestarikan warisan tradisi leluhur, sekaligus menggerakkan ekonomi kreatif desa,” ujarnya.

Sementara itu, Bupati Temanggung Agus Setyawan mengapresiasi inovasi penyelenggaraan festival yang memadukan pelestarian budaya dengan kepedulian terhadap lingkungan. Menurutnya, penggunaan koin kayu sebagai alat transaksi dan penerapan kemasan bebas plastik menjadi inovasi yang memperkuat identitas Festival Lembutan Bansari.

“Menonton prosesi nganjang, mencicipi jajanan yang dibungkus daun, dan memegang koin kayu bukan sekadar aktivitas belanja biasa, melainkan sebuah diplomasi budaya yang mendalam. Karena kita tidak hanya merayakan hasil panen tembakau, tetapi juga merawat harmoni kehidupan dan kedaulatan ekonomi masyarakat lereng Gunung Sindoro,” ujar Agus.

Selama tiga hari penyelenggaraan, pengunjung akan disuguhi beragam atraksi, di antaranya ritual adat, kirab budaya, jamasan tembakau, pentas seni tradisional, lomba ngrajang dan nganjang, lomba nglinting tembakau, turnamen esports, hingga konser penutup yang menghadirkan grup musik Aftershine.

Selain itu, pengunjung juga dapat menikmati Pasar Tembakau Lembutan yang menampilkan produk unggulan dari 13 desa di Kecamatan Bansari, Pasar Jajan Desa dan UMKM dengan aneka kuliner tradisional berkemasan ramah lingkungan, serta Pasar Kopi yang menyajikan kopi khas Temanggung sebagai pelengkap pengalaman menikmati tembakau lembutan.

(Humas Jateng)